Thursday, March 12, 2015

Human bias is inevitable. If interpretation isn't provided, people would do it for themselves, based on their own ideas, misconception and prejudice. No matter how exciting the outcome, it would contain a lot more bias than how it really is.

Good night~...

Saturday, February 7, 2015

The Bracelet Philosophy

Nona 1: "Gelang aku udah rusak nih, bisa gak ya dibenerin?"
Nona 2: "Hmm, kalo kayak gini sih udah gak bisa dibenerin.."
Nona 1: "Iya ya, tinggal nunggu putus aja..."

*Didengar, tepatnya, disimak oleh lelaki galau yg dengan segera mengaitkannya dengan topik lain yg menarik untuk semua umur di sebuah restoran cepat saji berwarna merah yg gaboleh pesen menu yg biasa dipesan pagi2...ugh.

"Just because you're the only one that can see the end game doesn't mean that you're wrong. It just means it's lonely..........and scary. You'd be a fool if you weren't scared."

Monday, January 26, 2015

The Taste of Life

I can still remember the bitter yet flavorous Matcha that night. Cuz, it's like the taste of life. Of all the flavors, sometimes we chose bitter. Not because we want it, but because we need it. Need to feel the taste. Need to taste the feel.

Udah ah. Serius amat bacanya... 😁😁

Sunday, December 21, 2014

A Chance For A Change

Gak terasa, sekarang sudah sampai di ujung 2014. Cepat sekali, dan sepertinya tahun ini saya gak ngapa-ngapain. Entah sejak kapan tepatnya namun saya rasakan hidup saya STAGNAN. Menyedihkan.
Sebenarnya banyak rencana yang sudah saya tulis dan ingin lakukan di tahun ini, namun tampaknya semua hanya tinggal rencana. Tahun ini hampir habis dan task list masih menumpuk. Begitu juga rencana untuk tahun depan. Ya, saya menyiapkan resolusi untuk 2 tahun sekaligus. Tapi dengan tidak menyelesaikan task list tahun ini, apa artinya resolusi tahun depan?

....

Perubahan memang kadang datang tanpa diundang. Baik buruknya pun tergantung dari sisi mana perubahan itu dilihat. Saat sedang asyik berlari dan kaki tersapu secara tiba-tiba mungkin kita akan merasa sangat kesal. Melampiaskan kekesalan pada si penyebab kita terjerembab adalah pilihan pertama yang mungkin akan dilakukan. Namun jika ditelisik lebih dalam, bisa jadi memang kita berlari terlalu cepat dan tidak memerhatikan jalan yang kita lewati. Bisa jadi jika kita tidak tersapu justru malah akan tertimpa sesuatu yang lebih buruk di depan sana.

....

Saya mencoba sebisa mungkin untuk mencari tahu apa yang menyebabkan progress saya terhenti. Apakah ini sebuah musibah? atau malah sebuah kesempatan untuk saya dapat melihat the bigger picture. Sekali lagi saya katakan, baik buruknya tergantung dari sisi mana perubahan itu dilihat. Sekalipun saya kesal, saya cenderung melihat perubahan ini sebagai sebuah kesempatan yang baru. Peluang bagi saya untuk menelaah diri saya. Mengaitkan titik-titik petunjuk yang telah diberikan kepada saya. Sampai akhirnya saya tiba pada sebuah keputusan yang sepertinya memang harus saya ambil.

....

Dua Ribu Lima Belas Kembali Ke Kelas

....

Saya memutuskan untuk menunda semua ambisi saya, dan kembali sekolah. Dan sekalipun anda bilang bahwa Steve Jobs atau Bill Gates gak perlu sekolah untuk sukses, saya tetap akan sekolah.

Mohon doanya, teman-teman :)